Sabtu, 02 Juli 2011

Pers Release PT PERTAMINA (PERSERO)
Fuel Retail Marketing Region II
03.07.2011

Tanggapan PT PERTAMINA (PERSERO) Fuel Retail Marketing Region II Terhadap Pemberitaan kelangkaan BBM Di Wilayah Sumatera Bagian Selatan

PERTAMINA SERIUS AMANKAN PENDISTRIBUSIAN BBM
DI WILAYAH SUMBAGSEL

Fenomena beberapa saat terakhir di wilayah Sumatera Bagian Selatan dimana terjadi antrean kendaraan dan ketersediaan stok BBM yang lebih cepat terserap di SPBU terutama di Propinsi Sumatera Selatan, Lampung, Jambi, Bangka Belitung, dan Bengkulu sehingga menimbulkan ‘Panic Buying” di masyarakat dengan opini kelangkaan BBM yang terjadi di wilayah Sumatera Bagian Selatan tentunya menjadi fokus utama dari Pertamina Fuel Retail Marketing Region II dalam mengevaluasi dan memantau jalannya pendistribusian BBM Bersubsidi di wilayahnya, karenanya Pertamina menganggap perlu untuk memberikan informasi dan himbauan yang diperlukan oleh masyarakat melalui media massa untuk memberikan informasi terkini dan akurat untuk ber
sama-sama mewujudkan pendistribusian BBM yang tepat sasaran di wilayah Sumatera Bagian Selatan .

Berikut beberapa point penting yang dapat kami sampaikan kepada Saudara untuk melengkapi dan memenuhi kaidah “Cover Both Side” dalam penulisan berita mengenai hal tersebut sekaligus sebagai klarifikasi resmi dari kami, dalam bentuk pembahasan masing-masing Propinsi yang ada di wilayah PT PERTAMINA (PERSERO) Fuel retail Marketing Region II sebagai berikut :

PROPINSI SUMATERA SELATAN
Provinsi
Premium
Solar


Kuota 2011
Kuota YTD Juni
Real YTD Juni
Real vs Kuota
Kuota 2011
Kuota YTD Juni
Real YTD Juni
Real vs Kuota

Sumsel
679.651
337.032
368.725
109%
529.155
262.403
314.580
120%

Keterangan :
Kuota YTD Juni : Jumlah BBM yang seharusnya disalurkan berdasarkan kuota 2011.
Real TYD Juni : Jumlah BBM yang disalurkan secara real di lapangan.
Real vs Kuota : Prosentase realisasi berbanding kuota.

Dengan 4(empat) terminal BBM di wilayah Sumatera Selatan yaitu Terminal BBM Kertapati, Baturaja, Lahat, dan Lubuk Linggau saat ini cukup untuk mendukung pendistribusian BBM di wilayah Sumatera Selatan. Dengan menggunakan sistem pipanisasi dari RU III Plaju (kilang) dan Rail Tank Wagon (RTW) dengan PT KAI untuk mengangkut dan mendistribusikan BBM ke Terminal BBM yang tersebar di wilayah Sumatera Selatan.
Berdasarkan Kuota BBM Bersubsidi untuk Propinsi Sumatera Selatan, maka penyaluran per hari adalah sejumlah 1.862 KL/Hari untuk Premium dan 1.450 KL/Hari untuk Solar. Sebagai contoh Penyaluran 01.07.2011 Premium 2499 KL (132%) dan Solar 1973 KL(136%). Sehingga secara Propinsi Sumatera Selatan telah over kuota sebesar 109% untuk Premium dan 120% untuk Solar.
Saat ini Pertamina juga terus melakukan pembinaan kepada SPBU yang “nakal” atau bermasalah. Pembinaan ini ditujukan untuk tetap menjaga performa SPBU dalam melayani masyarakat dan memberikan efek jera bagi SPBU yang terbukti melakukan tindakan yang merugikan konsumen atau menyebabkan performa SPBU menurun dan tidak maksimal melayani masyarakat. Pembinaan ini berupa teguran maupun penghentian suplai kepada SPBU tersebut.

Ketegasan Regulasi dan Antisipasi “Panic Buying”
Penyaluran BBM di Sumatera Selatan saat ini masih mendapatkan tantangan dari beberapa sisi, antara lain adalah perlunya regulasi yang jelas dan tegas, sarana dan prasarana yang kondusif, serta pemahaman yang positif, antara lain :
Penetapan Regulasi dan penegakan aturan yang tegas terutama terhadap Pelaku Industri yang harus menggunakan BBM Non Subsidi, dan Peraturan mengenai pembelian BBM Bersubsidi melalui Jeriken. Tentunya hal ini juga harus disertai dukungan dari Pemerintah Daerah dalam merumuskan Peraturan Daerah dan Penegakkan hukum dari Aparat kepolisian untuk meminimalisir dan mencegah tindakan penyelewengan BBM terhadap tindakan pengecer, pengerit, maupun spekulan BBM Bersubsidi.
Pemahaman Seluruh Lapisan Masyarakat (Pemerintah Daerah, Kepolisian, dan Masyarakat Umum) akan pentingnya melakukan Gerakan Hemat BBM dan bersama-sama mengawasi dan memantau pendistribusian BBM Bersubsidi agar tepat sasaran dan tidak termasuk di dalam lingkaran spekulan BBM Bersubsidi. Dengan turut mengawasi pendistribusian BBM Bersubsidi dan mencegah, menegur, bahkan melaporkan apabila mengetahui terdapat tindak penyelewengan BBM Bersubsidi, secara tidak langsung telah mendukung dan mewujudkan pendistribusian BBM Bersubsidi yang tepat sasaran sehingga kelangkaan akibat pendistribusian yang tidak tepat sasaran dapat diminimalisir.
Pertamina juga berkordinasi dengan Pemerintah Daerah dan Kepolisian dalam rangka mewujudkan pendistribusian BBM yang tepat sasaran. Dalam hal ini adalah dengan wacana pembatasan jumlah pembelian BBM untuk di motor dan mobil di SPBU serta pencatatan nomer plat kendaraan yang mengisi BBM untuk meminimalisir tindakan pengerit dan spekulan BBM.
Pertamina jamin Pasokan BBM dalam rangka Jambore Nasional, Idul Fitri, Sea Games, dan Akhir Tahun. Tahun 2011 menjadi tahun dimana Propinsi Sumatera Selatan menjadi tuan rumah beberapa kegiatan bertaraf nasional dan Regional Asia. Pertamina dari sisi suplai BBM akan turut mendukung kesuksesan tuan rumah sebagai pelaksana kegiatan-kegiatan tersebut.


PROPINSI LAMPUNG
Provinsi
Premium
Solar


Kuota 2011
Kuota YTD Juni
Real YTD Juni
Real vs Kuota
Kuota 2011
Kuota YTD Juni
Real YTD Juni
Real vs Kuota

Lampung
655.794
325.202
338.291
104%
460.543
228.379
245.660
108%

Keterangan :
Kuota YTD Juni : Jumlah BBM yang seharusnya disalurkan berdasarkan kuota 2011.
Real TYD Juni : Jumlah BBM yang disalurkan secara real di lapangan.
Real vs Kuota : Prosentase realisasi berbanding kuota.

Berdasarkan Kuota BBM Bersubsidi untuk Propinsi Lampung, maka penyaluran per hari adalah sejumlah 1.797 KL/Hari untuk Premium dan 1.262 KL/Hari untuk Solar. Sehingga secara Propinsi Lampung telah over kuota sebesar 104% untuk Premium dan 108% untuk Solar.
Kondisi peningkatan produksi kendaraan bermotor di lampung juga menjadi salah satu faktor peningkatan demand BBM. Sedangkan kuota BBM tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan kendaraan bermotor berhubungan dengan konsumsi BBMnya.
Pengecer BBM, Praktek Penimbunan BBM, dan Penyelewengan BBM ke Industri. Perilaku pengecer dan pengerit BBM juga marak terjadi di SPBU, beberapa laporan masyarakat juga menginfokan adanya indikasi penjualan BBM dengan drum yang dilakukan pada malam dan dini hari yang dicurigai untuk keperluan Industri. Pada akhir bulan Juni, polisi menangkap basah pelaku penimbunan yang menggunakan tangki modifikasi untuk mengisi bahan bakar di Lampung Selatan. Selain itu, pada pertengahan bulan Juni di daerah Lempasing ada tempat penimbunan BBM terbakar. Kejadian-kejadian tersebut memperkuat dugaan adanya penimbunan BBM di masyarakat.

Langkah-Langkah Antisipasif yang Dilakukan Pertamina
Reschedulling Pengiriman BBM ke SPBU
Agar pasokan tepat waktu, maka sebagian SPBU-SPBU di luar kota, serta di daerah-daerah rawan kelangkaan dialokasikan ke ritase pertama secara bergantian. Tujuan dari langkah tersebut adalah untuk menghindari pembelian jerigen di malam hari. Jadi ketika stok datang pada pagi hari, maka pembeli pagi sampai dengan sore hari tepat sasaran yaitu konsumen kendaraan.
Menekan Panic Buying dengan memberlakukan Pembatasan Pembelian BBM di SPBU di wilayah Propinsi Lampung yang rawan spekulan BBM.
Mengatur Pembelian menggunakan Jerigen
Pembelian menggunakan jerigen dibatasi volumenya dan harus memiliki surat rekomendasi dari Pemerintah Daerah Setempat dan atau Kepolisian terdekat.
Melarang pengisian berulang-ulang dan pengisian ke Tangki Modifikasi
Memberi teguran kepada SPBU-SPBU yang sering dikeluhkan oleh konsumen
Menambah Pasokan untuk SPBU-SPBU kritis di Jalur Lintas termasuk rencana penambahan outlet Pertamax sebagai antisipasi masa mudik lebaran, Diharapkan Masyarakat juga dapat mengkonsumsi Pertamax sebagai substitusi dari Premium Bersubsidi.
Koordinasi dengan Pemda setempat mengenai masalah BBM
Akan dilakukan sidak dan pemberian sanksi untuk SPBU yang terbukti melanggar.
PROPINSI JAMBI
Provinsi
Premium
Solar


Kuota 2011
Kuota YTD Juni
Real YTD Juni
Real vs Kuota
Kuota 2011
Kuota YTD Juni
Real YTD Juni
Real vs Kuota

Jambi
357.066
177.066
194.369
110%
243.540
120.769
148.550
123%

Keterangan :
Kuota YTD Juni : Jumlah BBM yang seharusnya disalurkan berdasarkan kuota 2011.
Real TYD Juni : Jumlah BBM yang disalurkan secara real di lapangan.
Real vs Kuota : Prosentase realisasi berbanding kuota.

Berdasarkan Kuota BBM Bersubsidi untuk Propinsi Jambi, maka penyaluran per hari adalah sejumlah 978 KL/Hari untuk Premium dan 667 KL/Hari untuk Solar. Sehingga secara Propinsi Lampung telah over kuota sebesar 110% untuk Premium dan 123% untuk Solar. Sebagai contoh Penyaluran 01.07.2011 Premium 1102 KL (113%) dan Solar 898 KL(135%).
Meningkatnya permintaan BBM jenis minyak solar di beberapa kabupaten di provinsi Jambi sehingga melebihi dari kuota yang ditetapkan diakibatkan meningkatnya aktifitas pertambangan batubara di Provinsi Jambi antara lain Bab Bungo, Kab Tebo, Kab Sarolangung, Kab Batanghari, dan Kab Muaro Jambi. Naiknya aktifitas pertambangan ini juga salah satunya disebabkan oleh faktor cuaca yang tengah memasuki musim kemarau yang sangat cocok untuk melakukan kegiatan eksplorasi pertambangan batubara.
Kelangkaan yang terjadi khusus di wilayah Tebo, Pengusaha SPBU di wilayah Tebo sedang mengalami kesulitan finansial sehingga ketiga SPBU tersebut mengalami kendala ketersediaan LO khususnya di saat akhir pekan maupun libur panjang. Akibat kendala tersebut pengiriman BBM tidak dapat sesuai dengan kebutuhan di masyarakat karena harus menyesuaikan dengan setoran pemilik SPBU. Antisipasinya antara lain dapat dengan menyarankan pemilik untuk segera mengambil pinjaman di Bank sebagai solusi penambahan modal kerja mereka, atau dengan pengalih kepengurusan SPBU oleh koperasi/hiswana secara sementara sampai kondisi finansial pemilik membaik, atau jika memungkinkan dilakukan take – over kepemilikan oleh Pertamina.
Perilaku Spekulan BBM, Pengecer BBM, Jiriken Tanpa Ijin, dan Pengamanan SPBU. Perilaku spekulan BBM di wilayah Jambi cukup menuntut perhatian lebih dari seluruh pihak yang terkait terhadap pendistribusian BBM, tidak hanya Pertamina namun juga BPH Migas, Pemerintah Daerah, dan Kepolisian serta masyarakat tentunya. Sebagai contoh kejadian pembakaran dispencer SPBU di wilayah Sarolangun membuktikan bahwa penegakan keamanan di SPBU jugamenjadi hal yang penting.





PROPINSI BANGKA BELITUNG
Provinsi
Premium
Solar


Kuota 2011
Kuota YTD Juni
Real YTD Juni
Real vs Kuota
Kuota 2011
Kuota YTD Juni
Real YTD Juni
Real vs Kuota

Babel
230.232
114.170
131.247
115%
203.980
101.152
102.837
102%

Keterangan :
Kuota YTD Juni : Jumlah BBM yang seharusnya disalurkan berdasarkan kuota 2011.
Real TYD Juni : Jumlah BBM yang disalurkan secara real di lapangan.
Real vs Kuota : Prosentase realisasi berbanding kuota.

Berdasarkan Kuota BBM Bersubsidi untuk Propinsi Bangka Belitung, maka penyaluran per hari adalah sejumlah 631 KL/Hari untuk Premium dan 559 KL/Hari untuk Solar. Sehingga secara Propinsi Babel telah over kuota sebesar 115% untuk Premium dan 102% untuk Solar.
Untuk wilayah Propinsi Bangka Belitung masih banyak dipengaruhi oleh keberadaan tambang timah inkonvensional (tradisional) yang semakin marak terutama apabila pada saat harga timah sedang naik. Kegiatan pertambangan ini saat ini juga menggunakan mesin-mesin yang mengkonsumsi tidak hanya BBM jenis Solar namun juga banyak menggunakan mesin-mesin dari Cina yang mengkonsumsi BBM jenis Premium. Pertambangan timah ini tidak saja di darat namun juga di wilayah perairan ataupun dilaut dengan pasokan BBM yang diambil dari SPBU yang seharusnya tidak diperbolehkan
Perilaku Spekulan BBM, Pengecer BBM, Jiriken Tanpa Ijin, dan Pendistribusian BBM Bersubsidi yang Salah Sasaran. Hal yang sama juga terjadi di wilayah Bangka Belitung dengan maraknya pembelian BBM dengan jeriken ataupun bahkan kendaraan dengan tanki BBM yang telah dimodifikasi sehingga mampu menampung sampai 3(tiga) kali lipat dari daya tampung normal. BBM ini kemudian akan dijual kembali untuk keperluan tambang timah inkonvensional yang sudah menjadi mata pencaharian bagi sebagian besar masyarakat. Sehingga tidak saja menjadi penambang timah, menjadi penjual BBM Eceran dengan harga tinggi juga menjadi mata pencaharian yang menjanjikan.

Langkah-Langkah Antisipasif yang Dilakukan Pertamina
Pertamina Fuel Retail Marketing Region II memberlakukan aturan tambahan sebagai langkah pembatasan BBM PSO. Diantaranya :
Membatasi pembelian BBM di SPBU dan tidak boleh melakukan pengisian secara berulang-ulang.
Tidak melayani pembelian BBM Solar PSO melalui Jeriken, drum atau media lainnya.
Pembelian Premium Jeriken harus dilengkapi dengan surat rekomendasi pihak terkait.




PROPINSI BENGKULU
Provinsi
Premium
Solar


Kuota 2011
Kuota YTD Juni
Real YTD Juni
Real vs Kuota
Kuota 2011
Kuota YTD Juni
Real YTD Juni
Real vs Kuota

Bengkulu
183.417
90.955
90.890
100%
75.546
37.463
40.268
107%

Keterangan :
Kuota YTD Juni : Jumlah BBM yang seharusnya disalurkan berdasarkan kuota 2011.
Real TYD Juni : Jumlah BBM yang disalurkan secara real di lapangan.
Real vs Kuota : Prosentase realisasi berbanding kuota.

Berdasarkan Kuota BBM Bersubsidi untuk Propinsi Bengkulu, maka penyaluran per hari adalah sejumlah 503 KL/Hari untuk Premium dan 207 KL/Hari untuk Solar. Sehingga secara Propinsi Bengkulu telah over kuota sebesar 107% untuk Solar. Sebagai contoh Penyaluran 01.07.2011 Premium 540 KL (107%) dan Solar 276 KL(133%).
Meningkatnya permintaan BBM jenis Premium akibat maraknya Isu Kenaikan Harga BBM dan Pembatasan BBM Bersubsidi. Hal tersebut semakin menambah kepanikan di masyarakat dan menyebabkan terjadinya “Panic Buying” di SPBU. Dan juga kondisi ini dimanfaatkan tentunya oleh pengecer dan spekulan BBM untuk dapat menjual BBM eceran dengan harga tinggi kepada masyarakat.
Perilaku Spekulan BBM, Pengecer BBM, Jiriken Tanpa Ijin, dan Pengamanan SPBU. Pertamina telah mengambil langkah-langkah nyata dalam rangka penertiban pendistribusian BBM Bersubsidi di masyarakat antara lain dengan cara :
Meminta SPBU untuk berkordinasi dengan aparat agar menempatkan aparat pengamanan di SPBU dalam rangka menertibkan pendistribusian dan pelayanan BBM Bersubsidi di SPBU.
Berkordinasi dengan Pemerintah Daerah, Kepolisian, dan Instansi Terkait dalam rangka penertiban pendistribusian BBM.
Mendukung kebijakan Walikota Bengkulu dalam hal memberlakukan pembatasan pembelian BBM di SPBU di wilayah Kota Bengkulu.
Menyediakan dan memperbanyak suplai Pertamax di SPBU sebagai substiyusi bagi Premium untuk masyarakat mampu.
Berkordinasi dan mensosialisasikan kepada Media bahwa pendistribusian BBM Bersubsidi menjadi tanggungjawab bersama.

Secara keseluruhan 5(lima) Propinsi di wilayah kerja Pertamina Fuel Retail Marketing Region II, maka dapat dikatakan bahwa saat ini untuk pendistribusian BBM Bersubsidi telah mengalami Over Kuota sebesar 108% untuk Premium dan sebesar 114% untuk Solar.

Pertamina akan terus melakukan langkah progressive dalam menangani kondisi ini, antara lain dengan melakukan komunikasi yang efektif serta monitoring stock BBM di SPBU melalui Program Monitoring Stok seperti MS2 (Management Stok SPBU) serta Satgas setempat, selain itu Pertamina juga membuka layanan Contact Centre Pertamina di 500-000 atau (0711) 518500.



Data-data tersebut diatas dapat kami sampaikan secara tabel sebagai berikut :



Demikian kami sampaikan dan besar harapan kami bahwa release ini dapat menjadi acuan dan informasi untuk dimuat sebagai tanggapan kami atas pemberitaan yang dimuat. Terima Kasih

PT PERTAMINA (PERSERO)
Fuel Retail Marketing Region II Sumbagsel
Asisten Manajer External Relation


Roberth MV
HP : 0811716212
email : roberth@pertamina.com

###
PT Pertamina (Persero) adalah badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang penambangan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia. Saat ini, Pertamina berkomitmen mendorong proses transformasi internal dan pengembangan yang berkelanjutan guna mencapai standar internasional dalam pelaksanaan operasional dan tatakelola lingkungan yang lebih baik, serta  peningkatan kinerja perusahaan sebagai sasaran bersama. Sebagai perusahaan migas nasional, Pertamina berkomitmen untuk mewujudkan keseimbangan antara pencapaian keuntungan perusahaan dengan kualitas pelayanan publik. Dengan 52 tahun pengalaman menghadapi tantangan di lingkungan geologi Indonesia, Pertamina merupakan perintis pengembangan usaha gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG). Lingkup usaha Pertamina termasuk dalam melakukan eksplorasi dan produksi migas; pengolahan kilang minyak, manufaktur dan pemasaran produk-produk energi dan petrokimia; pengembangan BBM nabati, tenaga panas bumi dan sumber-sumber energi alternatif lain. Kegiatan operasi dan fasilitas infrastruktur Pertamina tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Pertamina melayani kebutuhan energi bagi lebih dari 220 juta rakyat Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar