Jumat, 25 Juni 2010

Gerakan Cinta BBM Non Subsidi

Palembang - Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di Indonesia, dari tahun ke tahun berdampak pada permintaan bahan bakar dalam negeri. Berdasarkan data tahun 2008 yang dirilis Kepolisian RI, jumlah kendaraan di seluruh Indonesia mencapai 65.273.451, dengan rata-rata pertumbuhan 9% pertahun, diperkirakan jumlahnya pada tahun 2010 ini mencapai 77 juta lebih. Sementara di Sumsel saja, jumlah kendaraan bermotor pada tahun 2010 ini diperkirakan mencapai 1,8 juta unit dengan rata-rata pertumbuhan 20% setiap tahunnya.

Selain permintaan bahan bakar meningkat, kecenderungan masyarakat menggunakan BBM bersubsidi, berdampak pada pembengkakan beban subsidi bahan bakar yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pada APBNP 2010, tercatat subsidi BBM dan LPG mencapai RP 88,89 triliun. Realisasi subsidi BBM yang dirilis Kementrian Keuangan hingga semester pertama 2010 mencapai Rp 22,7 triliun. Jumlah ini naik hampir lima kali lipat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya pada periode yang sama sebesar Rp 5,8 triliun.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, lewat Dirjen Migas Evita Legowo menegaskan  pada tahun 2010, Pemerintah hanya menyediakan 36,5 juta kiloliter BBM bersubsidi. Pemerintah terpaksa membatasi konsumsi BBM subsidi karena jika dibiarkan volume penggunaan akan meningkat hingga 40,1 juta kiloliter, yang berpengaruh pada beban APBN.

Untuk itulah di Sumatera Selatan  “Gerakan Cinta BBM Non Subsidi” diserukan, demi mengantisipasi keterbatasan BBM bersubsidi. Sebuah gerakan moral untuk menarik simpati serta mengajak masyarakat, utamanya pemakai kendaraan pribadi roda empat, khususnya golongan masyarakat mampu, agar peduli  memakai BBM non subsidi, sehingga bisa meringankan beban negara.

“Gerakan Cinta BBM Non Subsidi” dilaksanakan serentak di sepuluh kota besar di Indoensia pada Sabtu, 26 Juni 2010, di  Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Balikpapan, Denpasar dan Makassar.  Di Palembang, aksi simpatik yang dibuka di Bundaran Air Mancur Jl. Jend. Sudirman ini juga melibatkan Distamben Provinsi Sumatera Selatan, Distamben Kota Palembang dan Pertamina.

Kampanye ini menggelorakan semangat Cinta BBM Non Subsidi untuk menggugah kesadaran masyarakat agar turut membantu mengurangi beban subsidi  pemerintah, sekaligus membantu rakyat kecil, serta peduli lingkungan dengan menggunakan Bahan Bakar Khusus ramah lingkungan. Dalam kampanye ini dibagikan sticker Saya Cinta BBM Non Subsidi dan juga bibit pohon kepada masyarakat yang melintas.

 

Mengapa memakai Bahan Bakar Khusus yang tidak di subsidi Pemerintah ?

Bahan Bakar Khusus Non Subsidi seperti Pertamax, dan Pertamax Plus (untuk mesin Bensin) atau Pertamina Dex  (untuk mesin solar), memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan BBM subsidi. Banyak keuntungan dengan memakai BBM Non subsidi, seperti kandungan oktan yang lebih tinggi sehingga mampu membuat mesin lebih bertenaga.

Namun, oktan hanya sebagian kecil dari keuntungan menggunakan Bahan Bakar Khusus Non Subsidi. Keuntungan lainnya yakni mengandung zat pembersih sehingga membuat saluran bahan bakar kendaraan menjadi bersih, mulai dari tempat penampungan hingga ke ruang bakar sehingga pembakaran menjadi sempurna. Otomatis ruang bakar mesin menjadi bersih, umur oli di dalam mesin menjadi lebih panjang, dan membuat mesin awet.  Zat pembersih ini juga mengurangi emisi Hidro Carbon (HC) yang lebih ramah untuk lingkungan, dan juga aman bagi kesehatan si pengendara.  


Versi Pertamina Pusat jakarta

Media Contact: 

B. Trikora Putra

VP Corporate Communication

PT Pertamina (Persero)

No. telp (mobile): 08124306922 

Pertamina Dukung “Gerakan Cinta BBM Non Subsidi”

Jakarta - Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di Indonesia, dari tahun ke tahun berdampak pada permintaan bahan bakar dalam negeri. Berdasarkan data tahun 2008 yang dirilis Kepolisian RI, jumlah kendaraan di seluruh Indonesia mencapai 65.273.451, dengan rata-rata pertumbuhan 9% pertahun, diperkirakan jumlahnya pada tahun 2010 ini mencapai 77 juta lebih.

Selain permintaan bahan bakar meningkat, kecenderungan masyarakat menggunakan BBM bersubsidi, berdampak pada pembengkakan beban subsidi bahan bakar yang dikeluarkan  pemerintah, hingga pemerintah berinisiatif menggalang “Gerakan Cinta BBM Non Subsidi”.

Pertamina mendukung gerakan moral ini, yang bertujuan menarik simpati serta mengajak masyarakat, utamanya pemakai kendaraan pribadi roda empat, khususnya golongan masyarakat mampu, agar peduli  memakai BBM non subsidi, sehingga bisa meringankan beban negara.

“Gerakan Cinta BBM Non Subsidi” dilaksanakan serentak di sepuluh kota besar di Indonesia pada Sabtu, 26 Juni 2010, di  Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Balikpapan, Denpasar dan Makassar.  Aksi simpatik yang dibuka secara simbolis di Bundaran HI ini, melibatkan Kementrian ESDM, dalam hal ini Direktorat Jendral Migas,  BPH (Badan Pengatur Hilir) Migas, PT. Pertamina, dan Hiswana (Himpunan Wiraswasta Nasional) Migas.

Sekitar seribu peserta kampanye akan menggelorakan semangat Cinta BBM Non Subsidi untuk menggugah kesadaran masyarakat agar turut membantu mengurangi beban subsidi  pemerintah, sekaligus membantu rakyat kecil, serta peduli lingkungan dengan menggunakan Bahan Bakar Khusus ramah lingkungan.

Gerakan Cinta BBM Non Subsidi di SPBU Pertamina

Selain di pusat keramaian, Gerakan Cinta BBM Non Subsidi juga akan digelar di seluruh SPBU Pertamina di sepuluh kota, yang mengajak kendaraan pribadi roda empat menggunakan bahan Bakar Khusus ramah lingkungan, seperti Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamina Dex. Kegiatan ini juga diikuti dengan pembagian dan pemasangan sticker di kendaraan pribadi, berisi slogan tentang kesadaran masyarakat untuk menggunakan Bahan Bakar Khusus.

Mengapa memakai Bahan Bakar Khusus yang tidak di subsidi Pemerintah ?

Bahan Bakar Khusus Non Subsidi seperti Pertamax, dan Pertamax Plus (untuk mesin Bensin) atau Pertamina Dex  (untuk mesin solar), memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan BBM subsidi. Banyak keuntungan dengan memakai BBM Non subsidi, seperti kandungan oktan yang lebih tinggi sehingga mampu membuat mesin lebih bertenaga.

Namun, oktan hanya sebagian kecil dari keuntungan menggunakan Bahan Bakar Khusus Non Subsidi. Keuntungan lainnya yakni mengandung zat pembersih sehingga membuat saluran bahan bakar kendaraan menjadi bersih, mulai dari tempat penampungan hingga ke ruang bakar sehingga pembakaran menjadi sempurna. Otomatis ruang bakar mesin menjadi bersih, umur oli di dalam mesin menjadi lebih panjang, dan membuat mesin awet.  Zat pembersih ini juga mengurangi emisi Hidro Carbon (HC) yang lebih ramah untuk lingkungan, dan juga aman bagi kesehatan si pengendara.  

Data dan Fakta 

Pada APBNP 2010, tercatat subsidi BBM dan LPG mencapai RP 88,89 triliun. Realisasi subsidi BBM yang dirilis Kementrian Keuangan hingga semester pertama 2010 mencapai Rp 22,7 triliun. Jumlah ini naik hampir lima kali lipat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya pada periode yang sama sebesar Rp 5,8 triliun.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, lewat Dirjen Migas Evita Legowo menegaskan  pada tahun 2010, Pemerintah hanya menyediakan 36,5 juta kiloliter BBM bersubsidi. Pemerintah terpaksa membatasi konsumsi BBM subsidi karena jika dibiarkan volume penggunaan akan meningkat hingga 40,1 juta kiloliter, yang berpengaruh pada beban APBN.

 

###

 PT Pertamina (Persero) adalah badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang penambangan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia. Saat ini, Pertamina berkomitmen mendorong proses transformasi internal dan pengembangan yang berkelanjutan guna mencapai standar internasional dalam pelaksanaan operasional dan tatakelola lingkungan yang lebih baik, serta  peningkatan kinerja perusahaan sebagai sasaran bersama. Sebagai perusahaan migas nasional, Pertamina berkomitmen untuk mewujudkan keseimbangan antara pencapaian keuntungan perusahaan dengan kualitas pelayanan publik. Dengan 52 tahun pengalaman menghadapi tantangan di lingkungan geologi Indonesia, Pertamina merupakan perintis pengembangan usaha gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG).

Lingkup usaha Pertamina termasuk dalam melakukan eksplorasi dan produksi migas; pengolahan kilang minyak, manufaktur dan pemasaran produk-produk energi dan petrokimia; pengembangan BBM nabati, tenaga panas bumi dan sumber-sumber energi alternatif lain. Kegiatan operasi dan fasilitas infrastruktur Pertamina tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Pertamina melayani kebutuhan energi bagi lebih dari 220 juta rakyat Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar